Walikota Semarang : Penutupan Lokalisasi Tak Sekadar Seremonial Saja

Kementrian Sosial telah mengeluarkan kebijakan ‘Indonesia Bebas Lokalisasi Prostitusi Pada 2019’.

Caranya dengan mendorong seluruh stakeholder di daerah untuk dapat aktif terlibat mendukung target tersebut.

Salah satunya adalah Resosialisasi Argorejo di Kota Semarang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning (SK).

Terkait hal tersebut, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi  mengungkapkan bahwa pihaknya tak ingin penutupan lokalisasi sebagai sebuah ajang seremonial saja.

Menurutnya, tidak dapat dipungkiri bila dalam upaya penutupan lokalisasi tersebut banyak aspek yang dipertimbangkan dan harus ditangani secara komprehensif.

“Jika berkaca pada kebijakan Kementrian Sosial bahwa lokalisasi sudah harus dihapus dari Indonesia di 2019, maka Kota Semarang juga harus mengikutinya.Namun penutupan itu jangan cuma sebagai seremoni saja, yang kemudian setelahnya para pelaku prostitusi justru berpotensi melakukan aktivitas serupa ditempat-tempat lain,” ujar Hendi di Hotel Grasia, Semarang, Kamis (10/8/2018) kemarin.

“Sangat tidak elok memang jika dalam sebuah kota ada aktivitas prostitusi di dalamnya. Namun kita ini tidak bisa serta merta menutup, karena di sana banyak persoalan ekonomi,” sambungnya.

Jika nantinya akan dilakukan penutupan, dirinya meminta agar para orang-orang yang terlibat dalam prostitusi itu sudah siap dan terampil untuk melakukan aktifitas lain yang positif.

Tak hanya itu, pasca penutupan pun Hendi meminta agar segera ada perencanaan yang matang.

Hal itu bertujuan agar dapat segera merubah kawasan bekas lokalisasi tersebut menjadi trademark baru Kota Semarang dengan citra yang lebih positif.

“Intinya ini harus komprehensif dan menjadi tanggung jawab bersama, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung,” tutupnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*